He's so Annoying (4)


Sebelumnya. . .
Aku bertanya kepada Aina, teman sekamarku mengenai Malik. Meski belum banyak informasi yang aku dapatkan – karena takut ada yang curiga hehe– tapi itulah awal di mana aku menjadi tahu banyak tentang Malik. Ohya terimakasih buat kalian yang telah menggambarkan baik sosok, sifat, atau kepribadian Malik itu seperti apa. Keren, keren, aku suka. Sekali lagi, thank you so much all~
.
.
.

Chapter 4

Meski begitu Aina cerita sedikit tentang Malik, lelaki yang memiliki postur tubuh tinggi dan berlogat Melayu ketika berbicara. Aina mengatakan bahwa, Malik cukup pintar, kritis, bahkan mengambil kursus 2 bahasa, Inggris dan Jerman. Ia sengaja kursus Bahasa Jerman di Pare sebelum nantinya mengikuti kursus di Guthe Institute, Jakarta, soalnya Malik mau kuliah di Jerman. Dia tak hanya tinggal di Madiun, dia juga pernah tinggal di Jakarta.
"Ooh i see" kataku
"Yaa tapi gitu dia iseng, nyebelin"
"Nyebelin?" Tanyaku
"Aku loh pernah jadi korban juga, yaa kaya dia sekarang ke kamu"
"Really?" Tanyaku tak percaya
"He'eh" katanya sambil memejamkan mata
"You must be patient person" tambahnya lagi sebelum akhirnya mengajakku untuk tidur siang karena nanti sehabis ashar ada kelas Speaking.

Yaa dia adalah Malik, Muh. Malik Abdul Ridho. Lelaki yang mengambil lauk dipiringku, merekatkan hansaplast di lengan bajuku yang sobek. Lelaki yang menjahili Aina dengan melontarkan gombalan-gombalan yang katanya adalah dari temannya si Agus yang menyukai Aina. Lelaki yang suka membantu Madam (panggilan untuk pemilik kursus sekaligus pengajar B.Jerman) mengantarkan ketiga anaknya ke TK dengan motor. Lelaki yang pada akhirnya mengajariku bahasa Jerman dan meminta untuk aku segera memutuskan hubungan dengan lelaki yang berada di Bekasi.



*****

“Hari ini siapa yaa yang giliran maju public speaking?” tanya Aina sambil mengiris bawang dan cabai.
            I don’t know. Maybe it’s your turn” jawab Riya asal sambil menggoreng kerupuk.
“Eeh ngga” balas Aina terlihat panik. “Jadwalku loh masih 2 minggu lagi” tambahnya yang masih mengiris bawang dan cabai.
“Jadwalku sebelum Aina” balasku menyambung
“Ohiya, sekarang ‘kan jadwalnya kaum Adam” kata Riya
“Nng... Kalau ga salah sekarang jadwalnya Qamal deh” balasku lagi sambil memasukkan kerupuk yang sudah di goreng ke dalam toples.
“Ya Allah Riiii!! Kerupuknya gosong!” teriak Aina sontak membuat aku dan Riya terkejut.

Begitulah suasana di dapur saat akhir pekan. Kami yang perempuan membantu Madam masak atau masak menu sendiri sedangkan laki-laki membersihkan halaman belakang serbaguna yang memisahkan asrama putri dengan asrama laki-laki. Selain itu, kami punya jadwal public speaking setiap hari Sabtu sore. Public speaking di sini selain berlatih berbicara bahasa Inggris di depan umum, diperbolehkan untuk menampilkan bakat dan hobi, seperti menyanyi, menari, dan sebagainya.

Selesai masak, aku pergi ke halaman belakang untuk membilas pakaian yang sebelumnya ku rendam dengan pengharum kemudian langsung menjemurnya. Ketika menjemur 3 potong pakaian terakhir di halaman belakang, aku merasa ada seseorang yang sedang duduk di teras asrama laki-laki melihat ke arah halaman belakang tempat aku menjemur pakaian. Cara menatap orang itu –menurutku– seperti ada perasaan tidak suka dan mengerikan. Aku penasaran siapa orang yang sedang ia tatap karena yang ada dihalaman belakang tidak hanya ada aku, di sana ada Aina, Madam, A Imam, dan ketiga anaknya Madam yang sedang main di bawah pohon.

Perlahan ku menoleh ke sekeliling untuk memastikan bahwa mereka masih ada di sana. Tapi aku terkejut, karena yang ada di halaman belakang tinggal aku, A Imam dan ketiga anaknya Madam. Okey, aku tidak mau berprasangka macam-macam dahulu. Begitu selesai menjemur, segera ku meninggalkan halaman belakang dengan sesekali melirik ke orang itu, memastikan apakah ia masih duduk dengan tatapan yang mengerikan. Binggo!! Ia masih bertahan dengan posisi awalnya dan aku tertangkap basah sedang meliriknya. Oh no, it was so terrible.

Bersambung. . .
.
.
Kira-kira menurut kalian, siapa orang yang memiliki tatapan –yang menurutku– mengerikan itu? Apakah Malik? Apakah Qamal? Atau apakah ia pendatang baru di cerita ini? Dan siapa orang yang sedang ditatapnya? A Imamkah atau aku? Atau mungkin salah satu dari anaknya Madam? Silahkan tentukan pilihanmu! (Jika dia pendatang baru, silahkan berikan nama yang cocok untuknya) ^_^
Karena cerita selanjutnya akan ku kubuat sesuai dengan pilihan jawaban terbanyak. Senang rasanya jika kalian terlibat membantuku memutuskan siapa orang itu. Thank you so much~ Sampai bertemu lagi dichapter selanjutnya. . . .
 .
.
.
.
Terimakasih banyak buat kalian yang sudah memberikan komentar dan gambaran tentang Malik, lewat WA atau Blog, sangat membantu ^_^ terimakasih juga buat masukan-masukannya dan masih setia membaca tulisan sederhana ini~

Komentar

  1. Pendeskripsian suasannya di simpelin sedikit teh. Terlalu banyak sampe kadang matahin imajinasi saya sebagai pembaca, just imo. But overall is good.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih..
      Untuk deskripsi suasana, maksudnya?

      Hapus
    2. Liat yg lagi goreng kerupuk, entah penulis bermaksud untuk nambahin percakapan atau begimana tp itu malah jd pelik, pendeskripsiannya cukup sedang menggoreng kerupuk nah begitu jg udah cukup bagi pembaca (saya sendiri).

      Hapus
    3. Hoo, i see..
      Pas lg percakapan terlalu banyak deskripsi suasananya lg pada ngapain yaa..
      Thank you for your suggestion

      Hapus
    4. Tapi senyaman kakaknya aja nulisnya euy, kan ini tulisan kakak. Like what i said before "overall is good" ^.^

      Hapus
    5. Hehe okey, thank you for your suggestion

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

He's So Annoying (5)

Mengapa Kita Bisa Lupa ?

He Makes Me so Awkward