He's So Annoying (5)
Terimakasih banyak loh buat kalian
yang sudah menyarakan untuk aku melanjutkan kembali cerita ini. Sekarang rasanya
jadi bersemangat biarpun awalnya ada rasa ragu karena takut nanti ceritanya
terputus lagi, ‘kan ngga enak yaa.. Mau buat cerita baru juga sayang sama ceita
yang ini karena ceritanya gantung (untung cuma cerita bukan kisah cinta beneran
yang digantung, kan sakit yaa hehehe). Baiklah, kalau begitu, dengan senang hati kupersembahkan cerita ini untuk kalian. .
. Happy Reading~
.
.
Sebelumnya. . .
Aku
mengetahui informasi mengenai siapa Malik dari Aina meski belum sepenuhnya,
tapi itu sudah cukup karena ku pikir tidak perlu aku mengetahui lebih dalam
lagi. Terlepas dari Malik, ada hal lain yang terjadi di hari Sabtu. Saat itu aku sedang menjemur di halaman
belakang dan merasa ada seseorang yang sedang melihat ke arah halaman belakang
tempat aku menjemur pakaian. Cara menatap orang itu, menurutku seperti ada
perasaan tidak suka dan mengerikan (hehe lebay yah). Aku penasaran siapa orang
yang sedang ia berikan tatap mengerikan itu karena yang ada dihalaman belakang
tidak hanya ada aku.
Chapter
5
.
.
.
Allaahu Akbar, Allaahu
Akbar
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
Asyahduallaa ilaaha illallaah
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
Asyahduallaa ilaaha illallaah
Suara
adzan membangunkan aku juga Aina dan kami bergegas membangunkan yang lain untuk
shalat subuh berjama’ah lalu tadarus. Setelah itu, karena ini hari Rabu aku dan
lainnya melakukan aktivitas seperti biasa, ikut kelas pagi 1 (vocabullary) membersihkan asrama,
sarapan bersama dan kelas pagi 2 (grammar).
Materi kali ini di kelas grammar adalah tentang Passive Voice. Meskipun cukup sulit karena aku dan teman-teman suka
tertukar dalam penggunaan tobe (is, am, being, been, dan sebagainya) tapi
kalau diajarkan oleh Miss Anni semua terasa seru dan jadi mudah. Miss Anni ini
tutor aku selama di kelas grammar dan writting,
orangnya terbuka, ramah, asik, cerdas dan punya stock film banyaaak banget dan huallay
(istilah yang biasa aku dan teman-teman asrama pakai untuk menyebut kata alay).
“Miss
Ani, kok aku yang ini salah ya Miss?” Tanya Aina.
“Yang mana ta, De Aina?” Loh ini kamu
kebalik make tobenya. Ingat loh kan untuk perfect
itu pakai been kalau future pakai be.” Balas Miss Anni dengan logat khas
Jawa Timur.
“Iki
loh bi bin biengnya Aina” Kata A Imam.
“Haha
Miiiiss diledekin masa sama A Imam” Kataku.
“Hee
loh kamu Mam, sudah berani yaa rupanya” Balas Miss Anni.
Tok-tok.. Tok-tok..
Ada yang ketuk-ketuk jendela, lantas aku dan semuanya menoleh dan terkejut. Seseorang dengan kemeja krem menemplekan kertas putih bertuliskan “Apa, liat-liat?” di jendela. Lalu dengan jari telunjuknya yang mengarah kepadaku dia mengetuk-ngetuk jendela. Teman-temanku tertawa terlebih Riyya yang tiba-tiba mencolek tangaku sambil senyam-senyum. Ya ampun, apa maksudnya? Malik benar-benar aneh, pikirku. Tak lama terlihat Madam datang memasuki kelas dan dia pun duduk seperti semula. –kelas Bahasa Inggris dan Bahasa Jerman letaknya berdampingan hanya dipisahkan oleh kaca jendela–. Kelas grammar pagi ini pun selesai aku dan teman-teman kembali ke kamar masing-masing dan istirahat sejenak sebelum mengikuti kelas listening jam 1 siang.
Ada yang ketuk-ketuk jendela, lantas aku dan semuanya menoleh dan terkejut. Seseorang dengan kemeja krem menemplekan kertas putih bertuliskan “Apa, liat-liat?” di jendela. Lalu dengan jari telunjuknya yang mengarah kepadaku dia mengetuk-ngetuk jendela. Teman-temanku tertawa terlebih Riyya yang tiba-tiba mencolek tangaku sambil senyam-senyum. Ya ampun, apa maksudnya? Malik benar-benar aneh, pikirku. Tak lama terlihat Madam datang memasuki kelas dan dia pun duduk seperti semula. –kelas Bahasa Inggris dan Bahasa Jerman letaknya berdampingan hanya dipisahkan oleh kaca jendela–. Kelas grammar pagi ini pun selesai aku dan teman-teman kembali ke kamar masing-masing dan istirahat sejenak sebelum mengikuti kelas listening jam 1 siang.
.
.
.
Aku
terbangun dari tidur karena lapar dan ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 14.30,
wajar apabila aku merasa lapar karena tidur dari habis dzuhur. Hanya setiap
hari Jum’at aku dan teman-teman bisa tidur siang panjang karena kelas listening memang diliburkan. Ku lihat
Aina masih terlelap, sepertinya nikmat sekali dia tidur padahal aku mau ajak
dia untuk makan siang. Akhirnya aku ke dapur dan menemukan jajanan pasar sisa
tadi pagi, 1 cucur dan 1 kue talam pun habis ku makan. Namun, ketika aku mau
minum ternyata airnya habis. Aku melirik kanan-kiri untuk minta tolong isi
ulang air tapi tidak ada orang, ku
tengok asrama laki-laki juga begitu. Sepertinya orang-orang masih tidur.
Yasudah, kuputuskan untuk mencoba isi ulang sendiri karena kupikir Riyya saja
kuat masa aku tidak. Saat aku mencoba menggeser galon ke arah meja tiba-tiba datang
seseorang, ia mengambil galon itu dan menaikkannya ke atas meja.
“Eh!”
Kataku terkejut
“Kau
ini, apa susahnya minta tolong” Kata Malik
“Minta
sama siapa? Ngga ada orang”
“Yaa
siapa kek yang ada. Nih airnya udah”
“Ooh
iya, makasih”
Saat
aku minum sampai aku selesai isi ulang botol tupperwareku, Malik tidak beranjak pergi, dia malah melihatiku
seperti seseorang detektif yang siap menyelidiki suatu hal dari pelaku
pembuhunan. Lantas aku bertanya.
“Kenapa
lihat-lihat?”
“Ada
yang harus diselediki”
“Emang
apa, penting banget?”
“Pentinglah”
“Apa?”
“A
Imam itu pacarmu?”
“.
. . . .”. Mataku membulat dan tertawa. “Hahaha, kata siapa?”
“Udahlah
kau jawab saja”
“Bukan”.
“Oh
bukan. Yasudah kalau gitu”.
.
.
Kau
masi ingat? Seseorang dengan tatapan tajam yang melihatku Sabtu lalu adalah
Malik. Kenapa dia melakukan itu? Karena dia hanya ingin tahu apakah A Imam
pacarku atau bukan. Hmm ini mungkin gara-gara Kamis sore menjelang maghrib aku
diminta tolong Madam ke asrama cowok untuk mengingatkan malam ini akan ada
pengajian seperti biasa –inilah salah satu dari banyaknya kegiatan yang aku
sukai di tempatnya Madam, Pengajian Malam Jum’at. Biarpun setiap hari setelah
selesai shalat Maghrib kami selalu melakukan tadarus Al-Qur’an tapi malam
Jum’at selalu spesial karena setelah pengajian akan ada makan bersama–. Dari
dapur terlihat asrama laki-laki gelap karena lampu luar belum dinyalakan, pasti
penghuninya masih pada tidur. Benar saja, ketika aku masuk ruang utamanya gelap
dan terlihat ada A Imam dan Qamal yang masih tertidur pulas. Ya ampun rasanya ingin
sekali membawa seember air dan mengguyur mereka.Cklek... Begitu lampu nyala aku melihat sekeliling dan terkejut
ketika melihat Malik keluar dari kamar mandi.
“Ah,
ya ampun!” Hampir aku berteriak
“Ngapain
kamu?” Tanyanya santai
“Diminta
Madam untuk bangunin kalian, disuruh siap-siap buat solat maghrib jama’ah sama
ngaji”.
“Ok.
Bangunin tuh kawan-kawanmu”. Menunjuk A Imam dan Qamal
Aku
melirik sinis padanya dan mengumpat, kenapa tidak dia saja yang bangunkan?
Mereka kan kawannya juga.
“A..
Bangun A.. Oi Qamal bangun udah magrib”
“Kenapa
Ren?”
“Bangun
A, udah mau maghrib. Mandi trus siap-siap solat magrib jama’ah”
“Hmm
iyaa, bentar lagi yaa...”
“Ayo
A banguuun, disuruh Madam siap-siap”
“Aah
berisik ni Rene. Maghribnya masih lama”. Balas Qamal sambil tarik selimut.
“Dasar
kebluk!” Balasku sambil melempar bantal tepat ke muka Qamal.
“Yaudah
terserah ah, yang penting aku udah bangunin. Nanti kalau Madam ke sini urus
sendiri.” Jawabku kesal lalu pergi meninggalkan asrama laki-laki.
Ohya
kenapa aku berani ke asrama laki-laki dan membangunkan mereka semua? Karena
asrama laki-laki terbuka dan ruangannya tidak besar. Hanya ada dua kamar, satu
kamar mandi dan ruang utama dengan dua pintu yang lebar menghadap dapur. A Imam
dan Qamal jarang tidur di kamar kecuali malam hari, mereka lebih suka tidur di
ruang utama –memang di ruang utama ada dua kasur–. Itulah yang memudahkan kami
para perempuan untuk membangunkan mereka. Ketika pergi meninggalkan asrama
laki-laki, di depan pintu masuk dapur aku berhadapan dengan Malik dia memberiku
sebuah kertas.
Bersambung. . .
.
.
.
Wah, ko kertas? Apa
isinya? Surat cintakah, nomor HP kah, ajakan kencan kah, atau surat kaleng?
Penasaran kaaaan?
Menurut kalian apa
isinya?
Komentar
Posting Komentar